logo

13/10/18

Nasib Tragis Dedengkot Aremania yang Buang-buang Uang di Stadion

Nasib Tragis Dedengkot Aremania yang Buang-buang Uang di Stadion

NUSANEWS - The Conductor adalah julukan untuk dirijen Aremania Yuli Sumpil atau Yuli Sugianto. Kiprahnya bersama beberapa dedengkot Aremania dimedio 90-an, mampu mengubah wajah suporter Indonesia kala itu. Sejak 1989, ia sudah menjadi bagian dari pendukung Arema.

Ya, Yuli Sumpil bisa dianggap sebagai pelopor suporter kreatif Indonesia. Salah satu lagu yang sering dinyanyikan oleh suporter Indonesia adalah 'Ayo-ayo Arema, sore ini kita harus menang'. Lagu itu, kemudian diikuti beberapa suporter Tanah Air, bahkan juga untuk Timnas Indonesia.

Kemudian, aksi koreografi menggunakan tangan, beberapa gerakan tangan yang diperagakan Yuli mampu memperindah tarian suporter di stadion. Selain itu, Yuli Sumpil lah yang memperkenalkan kultur mania pada sepak bola Indonesia.

Aksinya pada awal 2000-an, membuat Ketua PSSI kala itu Agum Gumelar kagum. Aremania kemudian diberi predikat suporter terbaik Indonesia. Loyalitas, kebanggaan dan harga diri adalah semangat yang dibawa Yuli Sumpil dalam memberi dukungan kepada Arema.

Kini, pengabdiannya kepada Arema dan sepak bola Tanah Air berakhir tragis. Ia disanksi Komdis PSSI dilarang memasuki stadion di seluruh Indonesia seumur hidup. Yuli mempertanyakan pantaskah hukuman itu untuk dirinya.

Hukuman itu buntut dari aksi provokasi yang dilakukan Yuli Sumpil, saat pertandingan Arema FC kontra Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan, Sabtu lalu, 6 Oktober lalu. Ia memasuki lapangan dengan menghamburkan uang di depan pemain Persebaya.

"Apa sebenarnya, kesalahan saya, apakah hukuman itu layak saya kembalikan ke masyarakat. Saya masuk lapangan menghamburkan uang, untuk menunjukkan ini Arema bondo duwek (modal uang) tidak modal nekat. Saya juga tidak menyentuh pemain Persebaya," kata Yuli Sumpil, Sabtu 13 Oktober 2018.

Yuli mengatakan psywar yang ia lakukan adalah hal lumrah dalam sepak bola. Ia tidak melakukan kekerasan. Ia juga membandingkan dengan laga putaran pertama, saat Arema FC bermain di kandang Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo.

"Kalian bisa lihat, 90 menit plus logo Arema dirobek dan dibalik di papan skor. Tetapi, panpel membiarkan. Pemain dilempari botol, gawang dikencingi, dan maskot Persebaya mengacungkan jari tengah. Apakah hukumannya sama berat dengan Arema, tidak," ujar Yuli Sumpil.

Jamu Borneo, Persebaya Kehilangan Mesin Gol
Yuli Sumpil menegaskan, dirinya tidak akan melakukan banding atas hukuman berat yang ia terima. Sebagai seorang suporter sejati, menurutnya, hukuman dari Komdis tidak akan menghilangkan kecintaannya kepada Singo Edan. Meski tidak hadir, ia akan memberikan doa kepada Arema.

"Arema itu semakin ditekan semakin kuat, mereka bergerak karena nurani, karena cinta kepada Arema. Harga diri itu tetap ada dalam jiwa, yang penting saya bukan pecundang. Saya akan tetap dukung Arema, meski tidak harus datang ke stadion," kata Yuli Sumpil.

Yuli Sumpil menjadi dirigen Aremania sejak tahun 1996. Selama itulah kisah suka dan duka dialami Yuli. Ia menjadi saksi Arema juara Galatama pada tahun 1992. Kisah pahit degradasi ke divisi satu pada 2003, tak lunturkan semangat Yuli mendampingi Arema.

Ia juga menjadi saksi Arema kembali ke divisi utama setahun kemudian. Juara copa Dji Sam Soe dua kali pada tahun 2005 dan 2006, juga ia rasakan. Kemudian, sanksi larangan masuk ke stadion selama dua musim untuk Aremania pada 2008, pernah ia rasakan.

Sanksi tidak membuat Aremania patah semangat. Dibawa komando Yuli, Aremania tetap memberikan dukungan meski tanpa atribut. Puncaknya adalah mengawal Arema menjadi juara Liga Indonesia pada 2010. Hal ini menjadi memori paling manis Yuli Sumpil mendukung Arema.

"Kita pernah disanksi dua musim, itu tidak membuat kami mati. Arema itu cinta yang didasari keikhlasan dan ketulusan. Yang saya sayangkan, kenapa untuk tim Arema seberat itu, pemain harus tetap berjuang di lapangan, dan Aremania harus tetap memberi dukungan meski tanpa saya," kata Yuli Sumpil.

Kini, Yuli Sumpil akan menjalani aktivitas seperti biasa. Pria penghobi burung berkicau itu mengaku banyak mendapat dukungan dari beberapa suporter Tanah Air, seperti The Jakmania, hingga beberapa suporter dari Malaysia dan Vietnam.

"Ya, mereka setelah mendapat kabar itu, langsung telepon ke saya tanya. Mereka bilang, ini tidak adil. Tetapi, yang jelas, saya tidak akan merengek meminta keadilan. PSSI harus berbenah dan transparan dalam membuat regulasi, agar suporter mengetahui jenis pelanggaran apa dan hukumannya apa tidak situasional seperti saat ini," ujar Yuli Sumpil.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...