logo

31/10/18

Kenaikan Cukai Berdampak pada Petani Tembakau, Begini Penjelasannya

Kenaikan Cukai Berdampak pada Petani Tembakau, Begini Penjelasannya

NUSANEWS - Industri Hasil Tembakau atau IHT di Indonesia, memiliki peran cukup besar terhadap penerimaan negara melalui pajak dan cukai. Selain itu, kehadiran IHT juga memberi dampak positif lain, seperti penyerapan tenaga kerja, penerimaan dan perlindungan terhadap petani tembakau dan dampak ganda yang lain.

Menurut Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), setiap tahun pemerintah senantiasa mengandalkan produk hasil tembakau (HT) untuk memenuhi target penerimaan perpajakan.

Rata-rata setiap tahun, cukai HT berkontribusi sebesar 10,5 persen dari penerimaan perpajakan. Apabila dihitung dengan kontribusi rokok secara keseluruhan (cukai, PPN HT, pajak rokok) terhadap penerimaan pajak rata-rata setiap tahun mencapai 13,1 persen.

Industri hasil tembakau (IHT), merupakan industri padat karya. Artinya, sampai saat ini, IHT dengan segala keterkaitannya mulai dari hulu hingga hilir, merupakan industri yang menyediakan lapangan kerja cukup besar.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno menyatakan, keberadaan IHT dan perkebunan tembakau terus menerus mengalami tekanan dan ancaman secara eksistensial saat ini. Padahal, sektor ini telah memberi kontribusi pajak cukup besar terhadap penerimaan pajak nasional.

Industri hasil pengolahan tembakau menjadi penyerap panen tembakau petani, karenanya jika produk olahan tembakau dikenakan cukai dengan kenaikan di atas 10 persen, akan menurunkan penyerapan tembakau lebih dari dua persen dari produksi nasional, atau setara dengan 4.000 hektare lahan tembakau.

“Berdasarkan pengalaman empat tahun terakhir rata-rata kenaikan cukai yang 12 persen telah menurunkan penyerapan tembakau 3,5 persen dari produksi nasional. Saat ini, ada lebih dari 10 ribu hektare tanaman tembakau yang tidak bisa diserap oleh pabrik,” tambah Soeseno dikutip dari keterangan resminya, Rabu 31 Oktober 2018.

Lebih lanjut, dia menegaskan, pemerintah perlu mencermati kebijakan kenaikan cukai yang tidak tepat dan tidak terarah. Karena akan mengecilkan peranan komoditas tembakau sebagai peredam jika terjadi gejolak pada ekonomi petani.

“Sampai dengan saat ini, komoditas tembakau masih menjadi komoditas pilihan di saat musim kemarau, karena masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dibanding dengan komoditas pertanian lainnya," ujar Soeseno.

Sektor tembakau terbukti memberikan multiplier effect yang signifikan dalam pembangunan Indonesia. Kontribusi ekonomi ke negara juga menyerap tenaga kerja lebih dari enam juta orang.

Dalam perkembangannya, petani tembakau juga telah berupaya untuk menerapkan sistem budidaya pertanian yang baik dan sesuai dengan arah sasaran pembangunan berkelanjutan. Mengingat pertanian tembakau lebih memiliki surplus ekonomi, sehingga menjamin kesinambungan investasi pada budidaya tanaman selanjutnya.

Atas dasar itu, pemerintah diharapkan dalam menentukan kenaikan cukai untuk tahun 2019, tidak menaikkan cukai dan harga rokok terlalu tinggi di atas 10 persen. Kenaikan harga dan cukai rokok harus memperhatikan kondisi industri dan daya beli masyarakat saat ini karena kenaikan yang sangat tinggi akan menimbulkan masalah-masalah baru dan menjadi kontraproduktif.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...