logo

23/10/18

Kasus Ratna Sarumpaet Naikkan Tren Positif Jokowi-Ma’ruf Amin

Kasus Ratna Sarumpaet Naikkan Tren Positif Jokowi-Ma’ruf Amin

NUSANEWS - Kasus informasi bohong alias hoax penganiayaan yang disebarluaskan oleh Ratna Sarumpaet (RS) membawa tren positif atas elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Tingkat elektabilitas Jokowi-Ma’ruf bertambah dari kalangan terpelajar dan kalangan pemilih dari ekonomi kelas mapan.

Peneliti senior dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ikrama menjelaskan, hal itu sebagaimana hasil survei lembaganya baru-baru ini. RS ketika itu menjadi Juru Kampanye Nasional (Jurkamnas) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Ikrama menjelaskan, pada September 2018 lalu, sebelum kasus hoax, dukungan terhadap Jokowi-Ma’ruf di segmen ini hanya sebesar 40,5 persen. Kalah dari Prabowo-Sandi yang berhasil memperoleh dukungan 46,8 persen.

“Namun setelah kasus hoax, yakni pada Oktober tahun ini, dukungan terhadap Prabowo-Sandi mengalami penurunan yaitu hanya sebesar 37,4 persen,” tandasnya dalam konferensi pers rilis survei bertajuk “Hoax dan Efek Elektoral Kasus Ratna Sarumpaet” kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (23/10).

Sementara, lanjutnya, masih di segmen kaum terpelajar, tingkat elektabilitas milik pasangan Jokowi-Ma’ruf malah mengalami kenaikan menjadi 44 persen.

“Sementara masih ada 18,6 persen kaum terpelajar yang masih belum menentukan pilihan,” imbuhnya.

Perubahan dukungan, kata dia, juga terjadi pada pemilih dengan segmen ekonomi mapan. Yang mana pada September lalu, tingat elektabilitas pasangan Jokowi-Amin sebesar 46,2 persen. Sementara pasca kasus hoax RS, yakni pada Oktober tahun ini, angka itu meningkat menjadi 54,8 persen.

“Sementara tingkat elektabilitas Prabowo-Sandi di tingkat ekonomi mapan mengalami penurunan. Sebelumnya pada September 2018 sebesar 43,8 persen. Saat ini dukungan terhadap Prabowo-Sandi di kelas ekonomi mapan hanya sebesar 34,5 persen,” urainya.

Dijelaskannya, penambahan tingkat elektabilitas Jokowi-Ma’ruf ini pertama karena kaum terpelajar banyak mengakses berbagai informasi, termasuk informasi tentang dunia politik.

Kedua, menurut dia, pemilih kalangan terpelajar dan segmen ekonomi menengah ke atas lebih sensitif dalam menilai karakter kepemimpinan.

“Salah satunya adalah mereka secara umum tidak menyukai karakter pemimpin yang mudah terkecoh dan reaksioner terhadap suatu peristiwa,” pungkasnya.

Survei ini dilakukan pada tanggal 10 sampai 19 Oktober lalu dengan melibatkan 1.200 responden. Mereka dipilih dari seluruh wilayah Indonesia dengan metode multistage random sampling.

Adapun margin of error dari survei adalah sebesar 2,8 persen, dengan tingkat kepercayaan 97,2 persen. Pengambilan sampel dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan menggunakan kuisioner.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...