logo

26/10/18

Hukuman Allah kepada Para Penista Syiar Islam

Hukuman Allah kepada Para Penista Syiar Islam

NUSANEWS - Umat Islam Indonesia sedang dihebohkan dengan kejadian yang membuat marah setiap muslim. Alih-alih dimuliakan karena kalimat tauhid adalah simbol kaum muslimin dan termasuk wahyu-Nya, ada oknum yang berulah dengan membakar bendera tauhid.

Sontak ghirah dalam dada umat Islam bergejolak dan aksi-aksi jihadul kalimah pun dilaksanakan di berbagai tempat di Nusantara. Solo, Semarang, Yogyakarta dan di kota-kota besar lainnya kaum muslimin bergerak untuk membela kalimat yang paling mulia ini.

Kalimat tauhid adalah bagian dari syiar-syiar Allah yang ada di muka bumi. Sudah sepantasya sebagai seorang muslim, kita mengagungkannya. Allah SWT berfirman :

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj : 32)

Syiar-syiar Allah amatlah sangat banyak, Al-Quran dan hadits-hadits rasul juga bagian dari syiar Allah yang seharusnya diagungkan oleh umat Islam.

Sebagian dari manusia yang diberi akal oleh Allah ada yang mencoba melawan syiar-syiarNya dengan berbagai hal. Ada yang melawannya dengan perbuatan seperti pembakaran kalimat tauhid, namun ada pula yang menantang wahyu dengan logika.  Mereka mendewakan akal entah karena sombong atau karena iming-iming dunia. Apapun alasannya, tindakan ini tetaplah digolongkan sebagai perlawanan terhadap nash Allah dan bersiaplah bagi pelaku untuk menerima balasannya.

Melawan dan Meremehkan  Wahyu Allah

Salah satu contoh perbuatan melawan wahyu di masa Nabi dapat kiat temukan di kitab Shahih Muslim. Disebutkan Salamah bin Al Akwa’ berkata,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021)

BACA JUGA  Merawat Ingatan akan Keagungan Kalimat Tauhid
Secara zahir hadits dapat kita ketahui bahwa ada seseorang yang menolak sabda Rasulullah soal makan dengan tangan kanan. Penolakan ini didasari karena sifat sombong, bukan karena ketidakmampuannya menggunakan tangan kanan. Maka, balasan bagi si penolak sabda Nabi ini terbayar kontan dengan tangannya yang tidak bisa sampai ke mulutnya persis seperti yang ia katakan sendiri.

Hadits ini menceritakan ketika Rasulullah kedatangan tamu di kota Madinah. Rasul sebagai tuan rumah menyambutnya dengan ramah dan murah hati. Satu di antara tamu yang datang mempunyai hati yang keras dan tercemar penyakit sehingga tertutup dari kebenaran.

Tiba saat makan siang, Rasulullah pun menghidangkan makanan istimewa pada para tamunya. Rasulullah mengamati seseorang disampingnya yang makan dengan tangan kiri. Nabi pun mengingatkannya dengan lembut,”Makanlah dengan tangan kanan.”

“Saya tidak bisa”, jawabnya singkat dengan kesombongan bukan karena ketidakmampuan.

Akhirnya, orang ini pun merasakan akibat dari kesombongannya melawan sabda Nabi. Sampai ajalnya ia tidak mampu mengangkat tangannya sampai ke mulutnya. Naudzubillah…

Hadits ini selain mengajarkan kita tata cara makan yang baik menurut syariat juga memperingatkan akan wabah penyakit hati berbahaya yang bernama kesombongan. Orang-orang yang sombong akan menolak kebenaran karena telah dipalingkan Allah dari kebenaran.

Allah berfirman

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS.Al-A’raf:146)

Allah akan memalingkan orang sombong dari kebenaran dan jika mereka melihat sesuatu yang baik secara otomatis tidak akan mau menempuhnya. Kebalikannya jika melihat kesesatan, ia secara sukarela akan mengikutinya. Kesombongan seseorang terhadap syariat akan menyebabkan petaka pada dirinya karena berujung pada penolakan syariat Allah.

Ada lagi kisah seseorang yang meremehkan sabda Nabi dan langsung mendapat balasan dari Allah karena memandang sebelah mata wahyu dari-Nya. Dalam kitab Ta’zimus Sunnah disebutkan bahwa Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il At Taimiy –dalam penjelasannya terhadap shohih Muslim- mengatakan,

”Aku telah membaca di sebagian kisah (hikayat) mengenai sebagian ahli bid’ah ketika mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah dia mencelupkan tangannya di dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali terlebih dahulu, karena dia tidak tahu di manakah tangannya bermalam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan niatan mengejek, ahli bid’ah ini berkata, ”Ya, saya tahu ke mana tangan saya bermalam di ranjang!!” Lalu tiba-tiba pada saat pagi, dia dapati tangannya berada dalam dubur sampai pergelangan tangan.

Kesombongannya karena meremehkan sabda Nabi terbayar lunas di pagi harinya. Ia mengira bisa lepas dari ketentuan Allah Sang Pemilik Syariat. Jika ada seseorang yang berani meremehkan syariat, menghina wahyu-Nya dengan cara apapun dan berbangga dengan jumlah dan logika,maka bersiaplah menghadapi ketentuan-Nya.

Kalau kita menelusuri lebih dalam tentu banyak perlakuan-perlakuan manusia saat ini yang seenaknya meremehkan ayat-Nya. Entah dengan tindakan represif secara fisik menghancurkan, membakar simbol Islam misalnya bendera tauhid. Atau melecehkan syariat dengan perkataan, gurauan murahan dan semacamnya.

Tindakan-tindakan seperti itu tentu akan dibalas dengan tuntas oleh Allah dengan cepat atau lambat. Maka, jangan sekali-kali meremehkan syariat dan wahyu Allah, cukuplah contoh dari masa lalu dan abad ini menjadi perhatian kita semua. Wallahu a’lam bi shawab.

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...