logo

02/10/18

Gak Mau Disalahkan karena Cabut Peringatan Tsunami, BMKG Bilang Begini

Gak Mau Disalahkan karena Cabut Peringatan Tsunami, BMKG Bilang Begini

NUSANEWS - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan telah bekerja sesuai SOP dalam bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Menurut Humas BMKG, Dwi Rini Endra Sari, pihaknya sudah memberikan peringatan dini tsunami yang disebar kepada masyarakat setelah adanya gempa 7,4 magnitudo di wilayah tersebut.

"Kita menyampaikan peringatan dini tsunami dengan estimasi gelombang tinggi di Palu pukul 17.22

WIB. WIB ya," katanya kepada rilis.id, Selasa (2/10/2018).
Menurut Ririn, biasa dia disapa, BMKG kemudian melakukan pengakhiran peringatan itu sesaat setelah mengamati tidak adanya ancaman tsunami. Pengakhiran itu berlaku untuk pukul 17.36 WIB.
Menurut Ririn, sejumlah pihak salah mempersepsikan terkait peringatan dini tsunami yang

disampaikan BMKG. Sehingga, perlu ketelitian terutama soal waktu yang disampaikan BMKG.
"Estimasi kita tsunami datang ke Palu itu 17.22 WIB. Kalau di Palu jam berapa? 16.22 (WITA) kan? Kalau kita lihat video kan yang tersebar itu matahari belum tenggelam. Berarti kan belum magrib. Berarti kan sebelum tsunami berakhir. Ini perbedaan waktu," jelas Ririn.

Dia menjelaskan, Kota Palu termasuk dalam Indonesia bagian tengah yang waktunya lebih awal daripada Indonesia bagian barat.

Padahal, menurutnya, BMKG menyampaikan pesan blast dengan menggunakan waktu Indonesia bagian barat atau WIB.

Menurut Ririn, terjadinya tsunami di Palu itu diperkirakan sebelum waktu salat Maghrib. Sehingga, peringatan dini tsunami yang disampaikan BMKG masih berlaku pada waktu itu.

"Coba kita lihat video atau yang sudah tersebar. Itu kan situasinya masih terang, berarti sebelum Maghrib. Indonesia bagian tengah kan lebih awal dari Indonesia bagian barat ya," jelas dia.

Selain itu, ungkap Ririn, masyarakat di Kota Palu dan sekitarnya juga sudah pasti membagikan video tsunami melalui media sosial beberapa waktu setelah terjadinya bencana tersebut.

Sehingga, ada jeda waktu yang cukup lama antara terjadinya tsunami dengan kemunculan video tersebut.

"Kan terkesan menimbulkan persepsi masyarakat bahwa BMKG menghentikan peringatan dini tsunami kok kemudian tsunami terjadi. Padahal itu kan mereka ngeshare setelah terjadinya tsunami.

Karena pada saat tsunami terjadi kan mereka sibuk menyelamatkan diri masing masing," ungkapnya.
Ririn juga membantah anggapan bahwa alat pendeteksi dini tsunami sudah tak berfungsi lagi sejak 2012 silam.

"Sistem peringatan dini tsunami kita itu sudah berfungsi dengan baik. Maka sudah bekerja dengan baik sejak 2011," tegasnya.

Menurut Ririn, selama ini BMKG selalu menyampaikan warning kepada masyarakat setiap lima menit setelah adanya bencana gempa bumi di berbagai wilayah di Indonesia.

Bahkan, imbuh Ririn, pihaknya sudah mendesiminasikan informasi dini tsunami langsung ke masyarakat kurang dari tiga menit setelah adanya gempa bumi.

"Kita didukung dengan decision support system dengan 170 ribu skenario. Kemudian Tsunami Obsevation and Simulation Terminal, TOAST. Jadi kita bisa memodelkan tsunami dari estimasi waktu tiba sampai dampak," ujar dia.

"Seperti di Palu kemarin, kita sudah memberikan warning dan estimasi waktu tiba, gelombang tinggi. Contohnya kita menetapkan siaga di Palu," sambungnya kembali.

SUMBER © NUSANEWS.ID

KOMENTAR PEMBACA

loading...