logo

24/10/18

Empat Tahun Jokowi, Jauh Panggang Dari Api

Empat Tahun Jokowi, Jauh Panggang Dari Api

NUSANEWS - Pada 20 Okteber lalu, Presiden Joko Widodo genap empat tahun memimpin negeri ini. Secara umum, kinerja Jokowi masih jauh panggang dari api.

Penilaian itu disampaikan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang mengukur prestasi pemerintah adalah membandingkan antara capaian kerja dengan target awal yngg ditetapkan sendiri oleh pemerintah.

Kata dia, pemerintah tidak disiplin dengan target-target yang ditetapkan sendiri. Hasilnya, selama empat tahun memerintah tidak ada prestasi yang mengesankan.

“Nilainya di bawah rata-rata. Kalau anak sekolah, dengan nilai tersebut pasti tidak naik kelas,” ujar Fadli dalam akun Twitter @fadlizon, Rabu (23/10).

Dia kemudian menyoroti masalah penegakan hukum dan hak asasi manusia di era Jokowi-JK. Fadli menukil data Indeks Demokrasi Dunia Tahun 2017 yang dirilis Majalah The Economist pada Januari lalu.

Indeks itu memaparkan penilaian tentang keberlangsungan demokrasi di setiap negara yang diukur dengan menggunakan lima variabel penilaian, yaitu proses elektoral dan pluralisme, keberfungsian pemerintahan, partisipasi politik, kultur politik, dan  kebebasan sipil.

“The Economist menyebut bahwa posisi Indonesia dalam indeks tersebut merosot tajam 20 peringkat dari penghitungan tahun 2016,” jelasnya.

Tidak hanya itu, hasil penelitian Freedom House, indeks kebebasan HAM dan demokrasi di Indonesia juga mengalami kemerosotan. Indonesia yang semula masuk kategori negara dengan demokrasi bebas, kembali menjadi separuh bebas.

“Hasil penelitian tersebut sejalan dengan data BPS yang menyebutkan skor demokrasi di Indonesia turun, dari angka 72 menjadi 70,” sambungnya.

“Semua itu menunjukkan capaian buruk sekaligus menandai kemunduran dalam kehidupan berdemokrasi kita,” tutur Fadli.

Fadli turut menyoroti masalah sosial-politik yang terjadi selama Jokowi memimpin. Ada sejumlah indikator yang menjadi penilaiannya, antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, cadangan devisa, defisit anggaran, rasio utang pemerintah, tingkat pengangguran, dan tingkat kemiskinan.

“Jika kita menggunakan target yang ditetapkan oleh pemerintah sendiri, dari indikator tadi, hampir semuanya tak mencapai target. Hanya satu indikator saja yang targetnya tercapai, yaitu tingkat inflasi. Itupun rendah bukan karena keberhasilan pemerintah mengatur perekonomian, melainkan karena terjadinya pelemahan daya beli masyarakat,” tukasnya. [ian]

SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...