logo

26/10/18

Curahan Hati Para Sontoloyo

Curahan Hati Para Sontoloyo

NUSANEWS - Kata sontoloyo belakangan sedang ramai dibicarakan oleh politisi-politisi di Jakarta sana. Sementara di sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, para sontoloyo sedang bekerja keras, berharap hidupnya menjadi lebih baik.

Bila di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata sontoloyo berarti konyol, tidak beres, bodoh dan dipakai sebagai kata makian, di sebagian daerah di Jawa Tengah, dipahami sebagai profesi.

Sontoloyo adalah sebutan untuk para pengangon bebek. Seperti halnya kata bajingan, yang tak diketahui sejak kapan maknanya menjadi negatif hingga digunakan orang untuk memaki. Padahal bajingan adalah sebutan bagi pengemudi gerobak itu.

Kembali ke sontoloyo, detikcom menemui Mbah Dasar (60) di Rembang. Dia memilih berprofesi sebagai sontoloyo yang menurutnya sebagai pilihan paling tepat untuk tetap aktif di masa tuanya.

Saat dikunjungi di rumahnya di Desa Sidowayah Kecamatan kota Rembang misalnya, Mbah Dasar mengaku sudah melakoni aktivitasnya sebagai sontoloyo sejak belasan tahun. Ia menjadi sontoloyo mengikuti salah seorang rekannya yang lebih dulu menekuni profesi itu.

Suka duka sebagai sontoloyo pun sudah banyak dirasakan Mbah Dasar. Mulai dari meraup keuntungan yang besar ketika harga telur bebek naik dan produksinya melimpah, sampai pernah ratusan bebek yang ia ternak mati karena serangan flu burung.

"Awalnya dulu saya ngangon sekitar 180-an ekor bebek. Sekarang ada sekitar 400 lebih ekor di kandang saya ini. Sempat sampai tembus 900 ekor, tapi karena saat itu harga pakan naik, kemudian saya juali bebek saya," tutur Dasar saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/10).

Menjadi sontoloyo itu tidak mudah. Tak semua orang bisa menjadi sontoloyo.

Setiap pagi secara rutin ia harus menyambangi bebek-bebeknya untuk mengecek kondisi bebek, sekaligus membersihkan kandang. Di siang hari ia membawakan makanan berupa potongan ikan untuk bebeknya. Setelah itu ia menggiring ratusan bebeknya ke sungai untuk minum dan mandi.

Mbah Dasar sedang menggiring bebek-bebeknya. Foto: Arif Syaefudin/detikcom

"Intinya ngurusi bebek itu tepat waktu. Jam sekian harus ke kandang dan itu harus rutin tiap harinya. Ngangon juga, itu kan kalo ngangon biar produksi telurnya makin banyak. Ya saya sendiri lakukan," terangnya.

Said, sontoloyo awal Desa Ketanggi, Kecamatan Kota Rembang, juga bercerita pernah mengalami krisis karena harga pakan bebek naik drastis. Pakan yang digunakan untuk bebek sama dengan pakan ikan. Harga pakan ikan sempat sangat mahal seiring polemik pelarangan cantrang di daerah tersebut beberapa waktu lalu.

"Ya saat itu ya harga produksi ya meningkat tajam, sedangkan harga jual telur saat itu ajeg. Jadi ya malah merugi saat itu," kata Said.

Mbah Dasar dengan telur bebek hasil kerja kerasnya. Foto: Arif Syaefudin/detikcom

Mbah Dasar kemudian mengungkapkan pendapatnya soal sebutan profesinya yang jadi kata makian atau ledekan. 

"Ya kalau pakai kata sontoloyo itu ya kurang pas lah sebenarnya. Kita ini orangnya kalau kerja itu sebenarnya konsisten lho. Ngurus bebek itu, kuncinya memang harus konsisten, jam makan jam sekian ya harus segitu tiap harinya. Disiplin," ujarnya.

Menjadi seorang sontoloyo, lanjutnya, selain harus konsisten waktu dan disiplin juga dibutuhkan keahlian khusus. Utamanya, untuk bisa mengarahkan ratusan bebek saat menggiring atau menggembalakannya agar tak tercerai berai. 

"Saya ini punya hajatan menikahkan anak misalnya, ya mau nggak mau tetap harus meluangkan waktu sesuai jam buat ngurus bebek," lanjutnya. 


© NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...