logo

31/10/18

Buat Anda yang Manfaatkan Lion Air JT-610 Jadi Alat Politik, Anda Memuakkan!

Buat Anda yang Manfaatkan Lion Air JT-610 Jadi Alat Politik, Anda Memuakkan!

NUSANEWS - Jatuhnya Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang, menjadi tragedi kelam bagi Tanah Air.

Tragedi tersebut pun jelas meninggalkan luka mendalam, utamanya bagi keluarga korban.

Pengamat politik Ziyad Falahi mengharapkan dua kubu yang bersaing di Pilpres 2019 tidak menjadikan tragedi ini komoditas politik.

Menurutnya, menggunakan pesawat yang membawa total 189 penumpang dan awak pesawat itu sebagai komoditas politik, maka akan berakibat tidak baik bagi perjalanan demokrasi di Indonesia.

“Jadi, saya sangat berharap sebaiknya tidak demikian (kecelakaan Lion Air dijadikan sebagai komoditas politik),” ujar Ziyad kepada JPNN, Selasa (30/10).

Direktur Pusat Kajian Survei Opini Publik itu menambahkan, kemungkinan kecelakaan Lion Air ditarik menjadi isu politik sangat terbuka.

Pasalnya, pemilik Lion Air Rusdi Kirana berada di kubu Joko Widodo.

Rusdi saat ini merupakan Duta Besar RI untuk Malaysia.

Sebelumnya, mantan wakil ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Karena itu, jika tragedi ini dijadikan komoditas politik, kata Ziyad, masyarakat bakal makin muak dan tak percaya.

Sebab, masyarakat jenuh karena hampir segala peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini selalu dikaitkan dengan Pilpres 2019.

“Tapi kan politikus juga harus sadar, tak semua hal bisa dipolitisasi,” katanya.

“Apalagi ini menyangkut nyawa ratusan orang, efeknya saya kira masyarakat akan menilai politikus tak punya empati jika menariknya menjadi isu politik,” tutupnya.

Sebelumnya, atas peristiwa tersebut, Lion Air menegaskan perusahaan tak akan lari dari tanggungjawab.

Manajemen perusahaan di bawah naungan Lion Air Group itu memastikan akan memenuhi seluruh hak penumpang maupun keluarga korban.

Demikian disampaikan Direktur Operasional Lion Air, Daniel Putut Kuncoro Hadi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/10/2018) malam.

“Kami siap bertanggung jawab,” katanya.

Daniel menyatakan, pihaknya sudah mendata sebanyak 209 keluarga korban. Baik dari penumpang maupun kru pesawat.

Untuk itu, pihaknya berjanji akan terus memeberikan informasi update kepada keluarga korban untuk menghindari kesimpang siuran informasi.

Ia menambahkan, pihaknya juga sudah mendatangkan keluarga korban dari berbagai daerah ke Jakarta.

Sekaligus menyiapkan fasilitas akomodasi (penginapan) serta pusat informasi di Hotel Ibis di daerah Cawang, Jakarta Timur.

Hal itu dilakukan agar memudahkan mobilitas ke posko Bandar Udara Internasional Halim Perdana Kusuma.

Untuk itu, Daniel mengimbau keluarga korban yang belum teridentifikasi agar tidak berlama-lama berada di RS Polri Kramat Jati.

“Karena kita prosesnya menunggu. Jadi kami silakan tunggu di hotel. Menunggu di sini lama mempengaruhi kondisi psikologisnya,” tuturnya.

Untuk menjaga psikis para korban penumpang, pihaknya juga telah menyiapkan tim konseling psikologi dari RS Polri Kramat Jati dan Universitas Indonesia (UI).

“Kami menyiapkan family assistant sebanyak 180 orang. Setiap keluarga kami tempel satu staf kami untuk memberikan informasi,” pungkas Putut.

Untuk diketahui, dari data yang diterima sampai dengan Selasa (30/10/2018) malam, jumlah kantong jenazah yang dikirim ke RS Polri terus bertambah.

Sampai dengan pukul 22.30 WIB, total sudah ada 47 kantong jenazah.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...