logo

25/10/18

Banser Dibubarkan, PBNU: Banser Ikut Berjuang untuk Republik Ini

Banser Dibubarkan, PBNU: Banser Ikut Berjuang untuk Republik Ini

NUSANEWS -  Peristiwa pembakaran bendera tauhid di Garut, Jawa Barat, oleh anggota Banser masih terus menimbulkan pro-kontra di sejumlah kalangan.

Tak sedikit pula, pihak yang kemudian mengecam dan menganggap bahwa hal itu adalah bentuk penodaan agama.

Di sisi lain, insiden itu juga melahirkan wacana untuk membubarkan Banser.

Menanggapi hal itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai tak bisa seenaknya membubarkan Banser.

Pasalnya, Banser juga memiliki andil dalam lahirnya Indonesia sejak zaman kemerdekaan.

Karena itu, tak bisa pula seenaknya membubarkan organinsasi yang telah berdiri sejak 1937 itu.

Demikian ditegaskan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini usai menggelar konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (24/10/2018).

“Banser ikut berjuang untuk Republik ini. ‘Sahamnya’ besar. Peristiwa PKI juga Banser yang melakukan penumpasan, sejarah yang begitu rupa besar,” tegasnya.

Di sisi lain, pihaknya justru menyayangkan peristiwa anggotanya yang membakar bendera bertuliskan tauhid dalam peringatan Hari Santri di Garut itu dibesar-besarkan hingga menjadi urusan organisasi.

Bahkan ada yang meminta bahwa ormas tersebut dibubarkan. Padahal, anggota yang melakukan pembakaran sudah diberikan sanksi.

“Kalau ada salah satu anggota Banser yang melakukan kesalahan apa bisa dilimpahkan ke organisasinya? Toh, organisasi sudah memberikan sanksi,” katanya.

Sebelumnya, Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj menyebut peristiwa itu terjadi lantaran polisi lalai dan tak melakukan penertiban.

Mereka mengklaim, ada satu truk lebih bendera HTI yang siap dikibarkan di beberapa daerah di Jawa Barat.

“Bahkan sebagiannya telah berkibar,” ujar Ketua PBNU Said Aqil Siradj dalam jumpa pers di Gedung PBNU Kramat Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).

Hal itu, jelas Aqil, ditemukan berdasarkan laporan Tim Pencari Fakta yang dibentuk PBNU.

Ia mengklaim, di sejumlah tempat, bendera HTI berhasil ditertibkan dan diserahkan kepada aparat keamanan sesuai SOP.

Namun di Garut, Aqil menganggap polisi telah kecolongan. Menurutnya, insiden itu terjadi lantaran polisi tidak melakukan penertiban.

“Kami menyayangkan aparat keamanan yang kecolongan dengan tidak melakukan tindakan terhadap pengibaran bendara organisasi terlarang HTI,” lanjut Aqil Siradj.

Menurut PBNU, anggota Banser yang melakukan pembakaran adalah korban dari upaya provokasi dan infiltrasi secara sistematis terhadap peringatan Hari Santri Nasional 2018.

“Pengibaran dan pemasangan bendera HTI di tempat Apel Hari Santri Nasional 2018 terjadi di hampir seluruh Wilayah Jawa Barat, seperti Sumedang, Kuningan, Ciamis, Banjar, Bandung, Tasikmalaya,” kata Aqil.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...