logo

31/10/18

Bagaimana Kalau Lion Air Ditutup Saja?

Bagaimana Kalau Lion Air Ditutup Saja?

NUSANEWS - Jatuhnya Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang, menjadi tragedi kelam bagi Tanah Air.

Tragedi tersebut pun jelas meninggalkan luka mendalam, utamanya bagi keluarga korban.

Selain itu, peristiwa itu juga menjadi kali kesekian maskapai tersebut mencatatkan kecelakaan.

Berdasarkan catatan, kecelakaan pesawat yang melibatkan Lion Air ini menjadi yang ke-20 sejak 16 tahun terakhir.

Karena itu, muncul desakan agar pemerintah mencabut ijin operasional maskapai penerbangan tersebut.

Kalangan DPR pun setuju dilakukan evaluasi jika kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 akibat ada Standard Operating Procedure (SOP) yang dilanggar.

Karena itu, diperlukan sanksi tegas terkait kecelakaan tragis tersebut.

Demikian disampaikam anggota Komisi V Fraksi PDIP Rahmat Hamka Nasution saat ditemui di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/10/2018).

“Kalau memang ada SOP yang dilanggar ini perlu ada sanksi yang tegas,” tegasnya.

Menurutnya, sanksi tersebut ada di tangan Kementerian Perhubungan.

Karenanya Rahmat meminta Kemenhub tidak main-main dalam menegakkan hukum terkait pelanggaran SOP yang dialamatkan kepada Lion Air itu.

“Kalau memang ditemukan oleh Kemenhub adanya pelanggaran SOP, bekukan dulu izinnya,” jelasnya.

“Jadi harus ada reward and punishment,” kata anggota DPR asal Kalimantan Tengah ini.

Dia mengingatkan, SOP dalam dunia penerbangan tidak bisa disepelekan karena akan berdampak pada keselamatan nyawa manusia.

“Jadi jangan sampai kayak angkot ngejar setoran, maksain. Ini kan masalah nyawa,” tukas Rahmat.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, hingga saat ini belum ada rencana memberikan sanksi kepada manajemen Lion Air.

Menhub Sebut Bisa Beri Sanksi, Tapi Ada Syaratnya

Akan tetapi, sanksi dimaksud baru bisa diberikan di kemudian hari.

Jika memang bisa diketahui bahwa ada kesalahan yang menyebabkan kecelakaan tragis tersebut.


Demkian disampaikan Budi Karya Sumadi usai mendampingi Presiden Jokowi di Posko Basarnas Pelabuhan JICT, Jakarta Utara, Selasa (30/10/2018).

“Itu sanksi baru bisa kita berikan setelah mengetahui apakah ada kesalahan,” katanya.

Untuk itu, harus diketahui lebih dulu apakah kecelakaan tersebut disebabkan oleh pesawat, kru, awak, manajemen lalai, atau SOP, dan sebagainya.

“Itu baru bisa diketahui setelah KNKT menemukan kotak hitam,” jelas dia.

Sementara itu, pihaknya juga memberikan kesempatan juga kepada produsen pesawat Boeing untuk melakukan penyelidikan.

Akan tetapi, hasil penyelidikan dimaksud juga harus disampaikan ke Komisi Nasional Keselamatan Trasportasi (KNKT).

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebagai regulator juga punya hak melakukan investigasi.

“Terkait peristiwa ini, kami dari Kementerian Perhubungan juga melayangkan surat ke Garuda dan Lion,” katanya.

“Maskapai tersebut memilik pesawat sejenis. Surat kami layangkan untuk melakukan pemeriksaan,” jelas Budi Karya.

Saat ini, sambungnya, ada pesawat baru, jenisnya sama dengan Lion Air yang jatuh.

“Karena ada info, pilot ingin kembali ke landasan, dengan dasar itu ada yang perlu diklarifikasi,” imbuhnya.

Sebelum melakukan analisa kepada para awak, kata dia, pihaknya akan lebih dulu melakukan analisa pesawat.


“Pesawat sejenis ada sembilan. Delapan dimiliki Lion Air dan sisanya Garuda,”

“Jadi klarifikasi ini akan kita lakukan detail, tanpa prasangka apapun. Itu akan dicatat,” pungkasnya.

Dilansir dari Global news, CEO Aero Consulting Experts, Ross Aimer menjelaskan, bahwa model Boeing yang jatuh di Tanjung Karawang adalah jenis baru.

Boeing tipe ini memiliki banyak teknologi baru.

Menurut pilot senior mantan pilot United Airlines ini, sebagian besar maskapai penerbangan akan menawarkan pelatihan untuk pilot yang menggunakan pesawat baru.

Tetapi tidak jelas apakah Lion Air melakukannya.

“Saya tidak yakin Lion Air melakukan pelatihan ekstensif terhadap pilot mereka,”

“Mereka tidak memiliki catatan keamanan yang bagus, mereka dilarang dari wilayah udara Uni Eropa selama beberapa tahun,” ujar Aimer.

Namun pakar penerbangan tersebut mengaku sulit untuk menyalahkan perusahaan pesawat dengan dalih pelatihan.

Dan menyarankan maskapai lain untuk mengambil tindakan, sampai penyebab kecelakaan itu ditentukan.

“Mereka harus dapat mengekstrak suara dan perekam data segera, yang akan memberi kita semua indikasi dari apa yang sebenarnya terjadi,” kata Aimer.

Founder Aviation Safety Network, Harro Ranter juga meragukan hal yang sama.


Dia meragukan maskapai tidak dapat melatih atau merekrut pilot yang cukup berkualitas.

Sebab seharusnya maskapai penerbangan akan berjuang untuk mengelola pertumbuhan yang cepat.

“Indonesia memang menonjol. Mereka memang memiliki beberapa kecelakaan yang sangat buruk di masa lalu,” kata Ranter.

“Sulit untuk menilai apakah mereka telah membuat kemajuan yang cukup bagus menyangkut kontrol dan standart keamanan,” ujarnya.

Terpisah, manajemen perusahaan menegaskan tak akan lari dari tanggungjawab dan berjanji akan memenuhi seluruh hak penumpang maupun keluarga korban.

Demikian disampaikan Direktur Operasional Lion Air, Daniel Putut Kuncoro Hadi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/10/2018) malam.

“Kami siap bertanggung jawab,” katanya.

Daniel menyatakan, pihaknya sudah mendata sebanyak 209 keluarga korban. Baik dari penumpang maupun kru pesawat.

Untuk itu, pihaknya berjanji akan terus memeberikan informasi update kepada keluarga korban untuk menghindari kesimpang siuran informasi.

Ia menambahkan, pihaknya juga sudah mendatangkan keluarga korban dari berbagai daerah ke Jakarta.

Sekaligus menyiapkan fasilitas akomodasi (penginapan) serta pusat informasi di Hotel Ibis di daerah Cawang, Jakarta Timur.

Hal itu dilakukan agar memudahkan mobilitas ke posko Bandar Udara Internasional Halim Perdana Kusuma.


Untuk itu, Daniel mengimbau keluarga korban yang belum teridentifikasi agar tidak berlama-lama berada di RS Polri Kramat Jati.

“Karena kita prosesnya menunggu. Jadi kami silakan tunggu di hotel. Menunggu di sini lama mempengaruhi kondisi psikologisnya,” tuturnya.

Untuk menjaga psikis para korban penumpang, pihaknya juga telah menyiapkan tim konseling psikologi dari RS Polri Kramat Jati dan Universitas Indonesia (UI).

“Kami menyiapkan family assistant sebanyak 180 orang. Setiap keluarga kami tempel satu staf kami untuk memberikan informasi,” pungkas Putut.

Disebutkan, pesawat tersebut membawa total 189 penumpang beserta kru kabin.

Sampai saat ini, sudah sejumlah jenazah penumpang berhasil dievakuasi dan dikirim ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk proses identifikasi.

Selain itu, juga sudah ditemukan sejumlah puing-puing diduga dari pesawat Lion Air dan sejumlah barang-barang milik penumpang.

Untuk diketahui, dari data yang diterima sampai dengan Selasa (30/10/2018) malam, jumlah kantong jenazah yang dikirim ke RS Polri terus bertambah.

Sampai dengan pukul 22.30 WIB, total sudah ada 47 kantong jenazah.


SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...