logo

31/10/18

Anak Buah Prabowo Desak Penyelidikan Lion Air JT-610, Jokowi Jangan Beri Perlindungan!

Anak Buah Prabowo Desak Penyelidikan Lion Air JT-610, Jokowi Jangan Beri Perlindungan!

NUSANEWS - Pesawat Lion Air JT-610 rute Bandara Soekarno-Hatta tujuan Bandar Udara Depati Amir Pangkal Pinang, jatuh di perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10/2018).

Namun yang cukup membuat bingung adalah, pesawat yang membawa 189 penumpang beserta kru dan awak kabin itu adalah pesawat baru.

Disebutkan, pesawat nahas itu adalah tipe generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 yang diproduksi pada 2018.

Pun, baru mulai dioperasikan sejak dua bulan lalu atau pada 15 Agustus 2018.

Ada dugaan, kecelakaan itu disebabkan buruknya sistem maintenance dan crew training.

Karena itu, pihak kepolisian harus melakukan investigasi terhadap maintenance system dan crew training di Lion Air.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Arief Poyuono melalui pesan elektroniknya, Selasa (30/10/2018) malam.

Menurutnya, jika kemudian benar kecelakaan tersebut akibat maintenance dan crew pesawat training yang tidak sesuai CASR, maka harus ada tindakan tegas.

“Pemilik dan manajemen Lion Air bisa dikatagorikan melakukan tindak pidana kriminal dalam menjalankan usahanya,” kataya.

Selain itu, juga berarti bahwa perusahaan bisa dianggap lalai yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

“Secara lalai sehingga menyebabkan kerugian dan hilangnya nyawa seseorang,” lanjutnya.

Anak buah Prabowo Subianto itu lantas mengingatkan kasus pilot Garuda yang diadili akibat melakukan pendaratan darurat di Yogyakarta pada Maret 2007.

M Marwoto Komar saat itu divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sleman.

Sang pilot dinilai bersalah melakukan tindak pidana karena kealpaannya menyebabkan matinya orang dan menimbulkan bahaya bagi orang lain sesuai Pasal 479 G (b) dan 479 G (a) KUHP.

Selain itu, mantan anak buah Megawati Soekarnoputri itu juga meminta polisi tak mundur.

“Presiden Jokowi jangan mengintervensi investigasi yang dilakukan Polri,” tegasnya.

“Jangan karena dekat dengan Rusdi Kirana (pemilik Lion Air), Jokowi memberikan perlindungan,” sambungnya.

Untuk diketahui, Rusdi Kirana saat ini menjabat duta besar RI untuk Malaysia. Sebelum jadi dubes, dia diangkat Jokowi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Persiden.

Arief lantas mengingatkan orang nomor satu di Indonesia itu untuk tidak percaya dengan kampanye jika Lion Air ditutup akan merugikan ekonomi nasional.

Terlebih jika nantinya terjadi PHK dan berkurangnya frekuensi penerbangan sipil di Indonesia.

Pasalnya, Lion Air sudah sering mengalami kecelakaan yang justru akan membuat citra pemerintah sangat buruk di dunia internasional.

“KNKT harus jujur dan jangan masuk angin dalam menyelidiki kecelakaan JT-610,” tutup Arief.

Dilansir dari Global news, CEO Aero Consulting Experts, Ross Aimer menjelaskan, bahwa model Boeing yang jatuh di Tanjung Karawang adalah jenis baru.

Boeing tipe ini memiliki banyak teknologi baru.

Menurut pilot senior mantan pilot United Airlines ini, sebagian besar maskapai penerbangan akan menawarkan pelatihan untuk pilot yang menggunakan pesawat baru.

Tetapi tidak jelas apakah Lion Air melakukannya.

“Saya tidak yakin Lion Air melakukan pelatihan ekstensif terhadap pilot mereka. Mereka tidak memiliki catatan keamanan yang bagus, mereka dilarang dari wilayah udara Uni Eropa selama beberapa tahun,” ujar Aimer.

Namun pakar penerbangan tersebut mengaku sulit untuk menyalahkan perusahaan pesawat dengan dalih pelatihan, dan menyarankan maskapai lain untuk mengambil tindakan, sampai penyebab kecelakaan itu ditentukan.

“Mereka harus dapat mengekstrak suara dan perekam data segera, yang akan memberi kita semua indikasi dari apa yang sebenarnya terjadi,” kata Aimer.

Founder Aviation Safety Network, Harro Ranter juga meragukan hal yang sama.

Dia meragukan maskapai tidak dapat melatih atau merekrut pilot yang cukup berkualitas.

Sebab seharusnya maskapai penerbangan akan berjuang untuk mengelola pertumbuhan yang cepat.

“Indonesia memang menonjol. Mereka memang memiliki beberapa kecelakaan yang sangat buruk di masa lalu,” kata Ranter.

“Sulit untuk menilai apakah mereka telah membuat kemajuan yang cukup bagus menyangkut kontrol dan standart keamanan,” ujarnya.

Disebutkan, pesawat tersebut membawa total 189 penumpang beserta kru kabin.

Sampai saat ini, sudah sejumlah jenazah penumpang berhasil dievakuasi dan dikirim ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk proses identifikasi.

Selain itu, juga sudah ditemukan sejumlah puing-puing diduga dari pesawat Lion Air dan sejumlah barang-barang milik penumpang.

Sementara, dari data yang diterima, sampai dengan Selasa (30/10/2018) malam, jumlah kantong jenazah yang dikirim ke RS Polri terus bertambah.

Sampai dengan pukul 22.30 WIB tadi, total sudah ada 47 kantong jenazah.



SUMBER © NUSANEWS.ID

Komentar Pembaca

loading...