Headline

logo
Sel tahanan napi Sukamiskin tak digembok, ini jawaban Kalapas

Sel tahanan napi Sukamiskin tak digembok, ini jawaban Kalapas


NUSANEWS - Ombudsman mengkritisi sejumlah sel narapidana tidak digembok dari luar. Pihak Lapas Sukamiskin mengungkapkan hal itu merupakan kebijakan untuk tanggap darurat.

Kalapas Sukamiskin, Tejo Harwanto menjelaskan bahwa ada beberapa narapidana mempunyai masalah kesehatan yang kronis, seperti penyakit jantung. Jika sel digembok dari luar, dikhawatirkan penanganan kesehatan tidak bisa dilakukan secara cepat.

"(Tidak digembok) itu inisiatif saya bagi warga binaan yang punya sejarah penyakit jantung. Serangan jantung kan tidak bisa dilihat," katanya saat ditemui di Lapas Sukamiskin, Jalan AH. Nasution, Kota Bandung, Minggu (16/9).

"Ada kejadian menimpa Zul Mallarangeng (Choel). Pukul 03.00 WIB dia kolaps, bisa buka kamar (minta pertolongan)," sambungnya.

Apalagi, jumlah personel yang berjaga di Lapas Sukamiskin ia sebut sangat terbatas. Jika ada kejadian napi yang terkena penyakit, akan susah ditangani jika digembok dari luar.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa pengawasan dan pengamanan di setiap gedung ditingkatkan.

Tejo menjelaskan, sebagai pimpinan yang baru menjabat selama satu bulan, hal yang menjadi prioritas adalah pembenahan manajemen dan pola pemahaman para petugas Lapas Sukamiskin. Hal ini tidak terlepas dari enam orang petinggi Lapas Sukamiskin yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

"Masyarakat harus tahu. Kami bertugas setelah dampak kasus (OTT pimpinan Kalapas oleh KPK). 16 Orang baru dipilih dan dilantik," kata Tejo.

Dengan begitu, ia mengaku masih buta sehingga meminta petunjuk langkah yang harus dilakukan kepada menkum HAM. "(Sebagai pejabat baru) kami seperti buta (harus memulai pekerjaan dari mana). Dari berbagai arahan dan masukan, diputuskan mengubah nilai organisasi di lapas," imbuhnya.

"OTT ini berdampak psikologis petugas staf di sini. Saya membuat skala prioritas, manajemen perubahan, manajemen SDM dan pengawasan," ia melanjutkan.

Bentuk perubahan yang ingin direalisasikan adalah peningkatan pembinaan dengan membangun beberapa fasilitas. Seperti, poliklinik untuk pemeriksaan kesehatan para narapidana.

Selain itu, ia ingin ada pembangunan ruang kunjungan. Pasalnya, sampai saat ini belum ada pengganti ruang besuk untuk keluarga napi pasca-saung (gazebo) dibongkar.

Lalu, ruang komputer yang bisa memfasilitasi para napi yang ingin tetap menulis, sekaligus menekan kemungkinan gadget masuk ke Lapas.

"Sekarang (pembesuk) berceceran. Lalu, pemeriksaan kesehatan (inginnya) ada poliklinik. Nanti diajukan (anggaran) tahun depan," jelasnya.

Terkait keinginan Ombudsman yang ingin luasan semua sel merata, ia menjelaskan hal itu adalah rencana jangka panjang. Faktor anggaran dan konstruksi bangunan yang tua menjadi pertimbangan.

"Anggaran tidak ada, untuk perawatan saja tidak ada. Makanya kami fokus melakukan kinerja yang tanpa anggaran dulu, seperti peningkatan integritas petugas," terangnya.

"Kami akui (sel tidak merata). Ombudsman ingin ada standarisasi (pembongkaran sel), memang itu rencana jangka panjang kami," pungkasnya.

Seperti diketahui, anggota Ombudsman, Ninik Rahayu mengkritisi penggembokan pintu sel usai melakukan sidak. Sesuai standar operasional prosedur, penggembokan seharusnya dilakukan dari luar kamar. Namun dari pengamatannya, penggembokan hanya dilakukan di blok saja. Sehingga napi bisa leluasa keluar masuk kamar.

"Hunian Sukamiskin enggak digembok masing-masing kamar. Digemboknya di blok saja, jadi leluasa. Nah ini saya kira perlu menjadi masukan," katanya.

SUMBER © NUSANEWS.ID
loading...
KOMENTAR PEMBACA