Headline

logo
Ferdinand Hutahaean: Kehancuran Ekonomi adalah Salah Rakyat

Ferdinand Hutahaean: Kehancuran Ekonomi adalah Salah Rakyat


NUSANEWS - Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, menyebut kondisi ekonomi Indonesia saat ini hancur.

Hal ini disampaikan melalui akun Twitternya, @LawanPoLitikJW, Sabtu (8/9/2018).

Ferdinand Hutahaean menyebut kehancuran ekonomi adalah salah rakyat.

Menurutnya, rakyat telah salah memilih presiden yang tidak bisa mengurus negara dengan benar.

Untuk itu, di tahun 2019 mendatang Ferdinand Hutahaean mengimbau agar rakyat tidak salah pilih lagi.

Ferdinan Hutahaean menyarankan untuk memilih Partai Demokrat dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 mendatang.

"Iya betul, itu salah rakyat..!! Memilih presiden dulu salah, tak mampu urus negara dengan benar. Dampaknya ya sekarang ekonomi hancur.

Makanya 2019 jangan salah pilih lagi. Pilih perubahan, jangan mempertahankan status quo.

Mau berubah? Pilih @PDemokrat presidennya @prabowo," tulis Ferdinand Hutahaean dalam akun Twitternya.

Unggahan Ferdinand Hutahaean pada Twitter (Twitter @LawanPoLitikJW)

Diberitakan sebelumnya, kondisi ekonomi Indonesia sedang mejadi sorotan.

Pasalnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat berada di level Rp 15.000.

Namun kemarin, Jumat (7/9/2018) nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan dengan menjauhi level Rp 15.000 per dolar AS.

Data Bloomberg menyebutkan nilai tukar rupiah berada di level Rp 14.820 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memberikan tanggapan mengenai kenaikan nilai tukar rupiah tersebut.

Diberitakan Kontan.co.id, Jumat (7/9/2018), Perry Warjiyo menjelaskan penguatan rupiah disebabkan oleh tambahan suplai yang ada di pasar.

Menurutnya, pengusaha yang memiliki valas menjual valasnya dan menyebabkan suplai bertambah.

“Sehingga dua hari ini supply dan demand berlangsung dan ini penting untuk nilai tukar yang menguat,” ujar Perry Warjiyo.

Oleh sebab itu, BI memberikan apresiasi kepada pelaku ekonomi yang menjual valasnya sehingga menambah suplai di pasar.

Sementara itu, BI dan pemerintah akan terus melakukan langkah nyata untuk menurunkan defisit transaksi berjalan.

Meski menguat, Perry Warjiyo menuturkan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini masih di luar nilai fundamentalnya.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator makro ekonomi Indonesia yang membaik.

Sebagai contoh, di bulan Agustus tercatat deflasi 0,05 persen.

Pertumbuhan ekonomi di semester II tahun 2018 tercatat 5,27 persen.

Sedangkan pertumbuhan kredit berada diatas 11 persen di bulan Juli 2018.

"Tentu saja (di luar fundamental). Kalau kita lihat, pergerakan inflasi yang sangat rendah, malah deflasi di Agustus, pertumbuhan ekonomi cukup bagus, perbankan yang kuat, kredit yang tumbuh lebih dari 10%,” ujar Perry Warjiyo.

Perry Warjiyo menambahkan, dibanding saat ini, ke depan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa terus menguat.

Dikutip dari bi.go.id, Jumat (7/9/2018), nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.884 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).

Sedangkan kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan Rp 14.958 per dolar AS untuk kurs jual dan Rp 14.810  untuk kurs beli.

SUMBER © NUSANEWS.ID
loading...
KOMENTAR PEMBACA