Headline

logo
Begini Saran Anwar Nasution Agar Rupiah Tak Rentan

Begini Saran Anwar Nasution Agar Rupiah Tak Rentan


NUSANEWS - Sikap pemerintah yang kerap kali menyebut kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global dianggap bualan belaka.

Pasalnya, permasalahan fundamental dalam negeri menjadi salah satu penyebab utama yang membuat nilai tukar rupiah tertekan hingga hampir menembus level Rp 15.000/US$, menurut Anwar Nasution.

Ekonom Senior yang juga merupakan bekas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) itu menilai, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih rendah, membuat Indonesia cukup rentan.

Pemerintah harus terus menerus menerbitkan utang untuk menutup defisit kas keuanga negara, karena penerimaan pajak tak pernah mencapai target. Setidaknya, sejak 2008 silam.

Lantas, masalahnya dimana? Porsi kepemilikan asing terhadap surat utang Indonesia saat ini hampir 40%. Tingginya kepemilikan asing terhadap obligasi negara, pun menyebabkan Indonesia rentan terhadap gejolak.

Misalnya, ketika kenaikan suku bunga di negara maju naik. Para investor asing bisa saja mengalihkan dananya dari indonesia ke negara maju, karena negara tersebut memiliki instrumen yang lebih menarik.

Maka dari itu, optimalisasi penerimaan pajak menjadi harga yang tidak bisa ditawar-tawar lagi agar Indonesia tidak terlalu rentan, ketika situasi ekonomi dunia berubah.

Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan itu pun meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk mengawasi betul-betul penerimaan pajak yang selama ini tidak pernah mencapai target.

"Suruh Sri Mulyani audit pajak. Siapa yang enggak bayar pajak, masuk penjara. Pemerintah harus tegas," kata Anwar, dalam sebuah diskusi di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (8/9/2018).

"Lihat Singapura, punya uang satu sen pun orang kena pajak. Kalau tidak, masuk penjara. Ini negara apa? Kau malah kasih amnesti pajak," tegasnya.

Menurut Anwar, kas keuangan negara yang surplus akan membuat Indonesia tahan terhadap gejolak ekonomi global. Alasannya, pemerintah tak perlu lagi bergantung pada pembiayaan dari luar negeri.

"Kita harus punya surplus anggaran. Itu yang tidak ada sekarang," tegas Anwar.

SUMBER © NUSANEWS.ID
loading...
KOMENTAR PEMBACA