Breaking

logo

Meski Kembali Tegaskan Kecewa Cawapresnya, Guru Besar LIPI Tegaskan: Orang Waras Pasti Pilih Jokowi

Meski Kembali Tegaskan Kecewa Cawapresnya, Guru Besar LIPI Tegaskan: Orang Waras Pasti Pilih Jokowi

NUSANEWS - GURU Besar Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Syamsuddin Haris sekali lagi mengatakan kecewa terhadap pilihan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Joko Widodo (Jokowi).

Prof Syamsuddin Haris kecewa terhadap pilihan Cawapres Jokowi yang batal menggandeng Prof Dr Mahfud MD.

Joko Widodo (Jokowi) kemudian memilih Prof Dr KH Maruf Amin sebagai Cawapres dan sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kekecewaan Prof Syamsuddin Haris terhadap pilihan Cawapres Jokowi ini ia tulis di akun twitternya untuk yang kedua kali, Sabtu (11/8/2018) sekitar 13 jam lalu.

Sebelummya,  atau pada Jumat (10/8/2018) malam, Syamsuddin Haris 'berkicau' di akun twitternyata menunjukkan kekecewaan dan kesedihan karena Prof Mahfud MD gagal menjadi cawapres Jokowi.

Ini twit Syamsuddin Haris Jumat lalu.

@sy_haris Aug 10: Prof. Mahfud, jujur saya sedih bercampur kecewa atas pilihan pak Jokowi. Kita menghormati KH Ma'ruf Amin sbg ulama berintegritas.

Tapi tdk tepat membebani beliau dgn jabatan cawapres di usia senja. Jokowi butuh figur cawapres yg visioner, tegas, bernyali, dan berani spt anda.

Syamsuddin Haris kemudian menulis status lagi di twitter.

Menurut Syamsuddin, kekecewaannya terhadap pilihan Cawapres Jokowi tidak ada kaitannya dengan pilihannya dalam Plpres 2019.

"Kecewa thdp pilihan cawapres @jokowi tdk ada kaitannya dgn pilihan dlm pilpres," tulis Syamsuddin Haris.

Menurut Syamsuddin Haris, siapa pun yang masih waras dam memiliki akal sehat tentunya tidak akan memilih  calon lain kecuali Jokowi.

"Siapa pun yg masih waras & memiliki akal sehat saya kira tdk ada pilihan lain pd 2019 kecuali Jokowi," tulis Syamsuddin.

Dia pun berharap KH Maruf Amin akan mampu mengikuti irama kerja dan komitmen keberagaman yang selama ini disampaikan Presiden Jokowi.

Simak status lengkap Syamsuddin Haris di akun twitternyata berikut ini.

Syamsuddin Haris‏ @sy_haris: Kecewa thdp pilihan cawapres @jokowi tdk ada kaitannya dgn pilihan dlm pilpres. Siapa pun yg masih waras & memiliki akal sehat saya kira tdk ada pilihan lain pd 2019 kecuali Jokowi.

Semoga KH Ma'ruf Amin bisa mengkuti irama kerja dan komitmen keberagaman pak Jokowi.




3 Kritik Guru Besar LIPI Terhadap Cawapres Jokowi

Sebelummnya diberitakan Wartakotalive.com, Guru Besar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengomentari pemilihan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang dipilih Joko Widodo alias Jokowi.

Prof Syamsuddin Haris, guru besar politik LIPI, mengatakan, dirinya sangat kecewa dan sedih atas batalnya Prof Dr Mahfud MD mendampingi Jokowi sebagai Cawapres.

Kekecewaan atau kritik Syamsuddin Haris terhadap penentuan Cawapres Jokowi ditulis dalam akun twitternya.

1. Kecewa Tidak Pilih Prof Mahfud.

"Prof Mahfud, jujur saya sedih bercampur kecewa atas pilihan pak Jokowi," tulis Syamsuddin Haris di akun twitternya.

Jokowi sebelumnya telah memilih Prof Dr Mahfud MD sebagai bakal Cawapres untuk dampinginya.

Prof Mahfud MD pun telah disuruh mengurus berbagai keperluan administrasi terkait dengan pencalonan dirinya itu.

Mahfud mengaku sudah mengukur baju dan juga sudah mengurus surat keterangan ke pengadilan.

Tetapi, pada Kamis (9/8/2018) malam, Jokowi yang didampingi 9 pimpinan partai politik (parpol) memilih Prof Dr KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapres.

2. Pilih Maruf Amin Tidak Tepat karena Usia

Menurut Syamsuddin Haris, KH Ma'ruf Amin adalah sosok ulama yang sangat berintegritas.

Tetapi, kata Syamsuddin Haris, pilihan terhadap Ma'ruf Amin sebagai Cawapres adalah pilihan yang sangat tidak tepat.

Jabatan Wakil Presiden (Wapres) adalah jabatan yang sangat berat.

Syamsuddin Haris menulis di akun twitternya, "Tdk tepat membebani beliau (Ma'ruf Amin) dgn jabatan cawapres di usia senja."

3. Jokowi Butuh Figur Bernyali dan Visioner

Menurut Syamsuddin Haris, Jokowi membutuhkan figur sebagai cawapres yang memiliki nyali, visioner, dan tidak penakut.

Sosok seperti itu, kata Syamsuddin, ada pada diri Mahfud MD.

"Jokowi butuh figur cawapres yg visioner, tegas, bernyali, dan berani spt anda," ujar Syamsuddin.

Kritik Syamsuddin Haris terhadap pencalonan Cawapres Ma'ruf Amin ditulis di akun twitternya berikut in.

@Prof. Mahfud, jujur saya sedih bercampur kecewa atas pilihan pak Jokowi. Kita menghormati KH Ma'ruf Amin sbg ulama berintegritas.

Tapi tdk tepat membebani beliau dgn jabatan cawapres di usia senja. Jokowi butuh figur cawapres yg visioner, tegas, bernyali, dan berani spt anda.



4 Alasan Jokowi Pilih Ma'ruf Amin Jadi Cawapres

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memutuskan bakal Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang akan mendampinginya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Presiden Jokowi tidak memilih Prof Dr Mahfud MD yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu bakal Cawapres Jokowi.

Presiden Jokowi juga tidak memilih calon dari partai politik (parpol) tertentu.

Jokowi justru memilih calon dari kelompok ulama, yakni Prof Dr KH Maruf Amin.

Ma'ruf Amin saat ini adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Jokowi membeberkan sejumlah alasan memilih KH Maruf Amin sebagai bakal Cawapres.

1. Ulama yang Bijaksana

Menurut Jokowi, Maruf Amin adalah sosok ulama besar yang sangat bijaksana.

Maruf Amin, ulama kelahiran Tangerang, 11 Maret 1943.

"Beliau adalah sosok utuh ulama yang bijaksana," ujar Jokowi saat menggelar jumpa pers bersama pimpinan partai politik pendukungnya, Kamis (9/8/2018) malam.

KH Maruf Amin saat ini adalah Ketua MUI dan juga Rais Am PBNU.

2. Ulama yang juga Politisi dan Negarawan

Selain menjadi seorang ulama dengan sejumlah jabatan, seperti Ketua MUI dan Rais Am PBNU, sosok Maruf Amin juga seorang politisi.

Maruf Amin pernah menjadi wakil rakyat di sejumlah tingkat, mulai dari daerah, tingkat pusat, sampai anggota lembaga tertinggi negara.

"Prof Dr Maruf Amin pernah menjadi anggota DPRD, DPR, dan juga MPR Ri," ujar Jokowi.

Di samping itu, Maruf Amin pun saat ini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).

3. Tokoh Kebhinekaan

Prof Dr KH Maruf Amin, selain seorang ulama juga dikenal sebagai seorang yang menghargai kebhinekaan.

Di samping itu, Maruf Amin, juga dinilai sebagai sosok yang sangat paham Pancasila.

"Dalam kaitan dengan kebhinekaan, Maruf Amin juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila," kata Jokowi.

4. Disetujui 9 Parpol Pengusung

Di samping memiliki keunggulan atau kelebihan dalam poin 1 sampai 3 di atas, sosok Maruf Amin juga disetujui oleh 9 partai politik (parpol) pengusung Jokowi pada Pilpres 2019.

Jokowi mengatakan, 9 parpol yang sudah menyetujui dirinya berpasangan dengan KH Maruf Amin adalah PDI Perjuangan, PPP, PKB, Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Hanura, Perindo, PKPI, dan PSI.

"9 Parpol sudah menyetujui. Ketua Umum dan Sekjen sudah menandatangani pencalonan. Besok jam sembilan kita akan mendaftar ke KPU, berangkat dari Gedung Joang," ujar Jokowi.

Poin 4 ini tentu sangat menentukan karena sebelumnya, Mahfud MD yang telah diajukan oleh Jokowi tetapi ditolak sejumlah parpol.

Selain menyoroti kelebihan Maruf Amin, Jokowi juga menjelaskan konsep perpaduan kelompok nasionalis dan relijius dalam pemilihan Cawapresnya.

Sementara itu, Ketua Umum PPP Romahurmuzi menambahkan, Maruf Amin adalah politisi yang lengkap.

Sebelumnya, Maruf Amin menjadi Ketua Fraksi PPP DPRD DKI.

"Beliau juga pernah menjadi anggota DPR dari PKB," katanya.

Maruf Amin juga ketua organisasi Islam terbesar di dunia dan Indonesia, yakni PBNU.

SUMBER © NUSANEWS.ID

KOMENTAR PEMBACA

loading...